Website Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung

Kunjungi kami di:
Baca Salengkepna ... »

Masyarakat Sunda Sulit Lakukan Regenerasi

Saat ini, masyarakat Sunda kesulitan dalam melakukan regenerasi. Generasi muda Sunda yang peduli terhadap masalah kesundaan sangat terbatas. Hal ini bisa disebabkan kurangnya pemahaman generasi muda terhadap budaya Sunda atau generasi tua yang tidak mempersiapkan penerusnya secara sistematis.

"Proses regenerasi adalah sesuatu yang niscaya. Regenerasi memerlukan kearifan ’para sesepuh’ dan inohong Sunda serta kesiapan generasi muda Sundanya sendiri. Keduanya mesti dilakukan secara simultan. Tanpa keduanya, mustahil regenerasi akan terjadi," ujar Koordinator Komunitas Babarengan Bebenah Bangsa, Djaka Badrananya.

Menurut Djaka, untuk penyiapan generasi muda Sunda, perlu upaya kaderisasi yang sistematis dan terencana. Untuk itu, perlu kearifan generasi tua untuk merelakan sebagian perannya diberikan kepada generasi muda. "Kami meyakini, jika generasi muda Sunda diberi kesempatan maka generasi muda kita akan mampu membangun masa depan yang lebih baik," ujar Djaka yang juga Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah Sunda (Bammus) Pusat.

Kaderisasi ini, kata Djaka, diperlukan juga dalam konteks revitalisasi budaya Sunda. "Kami berpandangan bahwa upaya dan ikhtiar yang tiada henti untuk me-review budaya Sunda agar sesuai dengan konteks kekinian perlu terus dilakukan. Budaya adalah proses yang dinamis. Ketika terjadinya pembakuan maka akan terjadi kebekuan. Hanya, dalam proses revitalisasi perlu diperjelas, wilayah mana yang dianggap tidak boleh berubah dan wilayah mana yang mesti berubah," kata Djaka yang didampingi Herman Afif.
Sumber: pikiran-rakyat.com
Baca Salengkepna ... »

12 Kacamatan henteu Kaakses Internet

Departemen Komunikasi sarta Informatika nargétkeun, dina warsih 2010 ka hareup, sakumna désa di Indonésia geus ngabogaan aksés télékomunikasi sarta informatika. Cacak kitu, di wengkuan anu leuwih heureut, Kabupaten Bandung, ngan nargétkeun panyadiaan raramat internet nepi ka tingkat kacamatan.

"Ngahaja kami henteu nargétkeun nepi ka tingkat désa sabab kaayaan wewengkon Kabupaten Bandung henteu matak bisa pikeun sadiana layanan télékomunikasi nepi ka ka palosok désa. Komo, ayeuna masih aya dua belas kacamatan anu sama sakali henteu kaakses internet alatan sajumlah ékol téknis," kecap Kapala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Informasi Badan Perpustakaan, Arsip, dan Pengembangan Sistem Informasi (Bapapsi) Kabupaten Bandung Elly Agustini.

Sajumlah ékol téknis anu dimaksud Elly di antarana teu pastina raramat provider sarta tacan sadiana raramat telepon kabel. Ékol anu kadua ieu lumangsung alatan mindeng teuing proyek pemasangan kabel telefon gagal dirampungkeun alatan kabel sok aya nu maok. Cacak kitu, Bapapsi tetep baris narékahan ambéh udagan éta bisa kahontal.

Pikeun warsih 2009 ieu, Pemkab Bandung nyiapkeun anggaran ngayakeun internet di sapuluh kacamatan. Samentara genep kacamatan séjénna, dina warsih anu sarua, nampa alokasi anggaran ti Pemprov Jabar.

Husus pikeun kacamatan anu ngayakeun internetna dibiayaan Pemkab Bandung, kecap Elly, baris dilengkepan weblog, sarta palatihan sumber daya manusa (SDM) anu baris ngoperasikeunana. "Weblog anu baris dijieun ku kacamatan éta engkéna diharepkeun bisa jadi média pikeun masarkeun produk lokal sarta potensi anu dipiboga ku maranehna," kedal Elly.

Kacamatan anu geus ngabogaan weblog ayeuna di antarana Kecamatan Kutawaringin, Pacét, Paseh, Cimaung, Ciwidey, sarta Kecamatan Pasirjambu. Samentara Katapang sarta Cilengkrang geus ngabogaan média anu geus ngawangun loka ramat.

Camat Katapang Nina Setiana ngaku geus ngarasakeun sajumlah mangpaat kalayan ayana www.kacamatan.katapang.net ieu. Potensi-potensi lokal anu aya di wewengkon Katapang bisa dipromosikan ka khalayak anu leuwih lega.

Loka ramat kasebut ogé mangrupa média anu cukup efektif dina nepikeun sajumlah kagiatan sarta pangladén ka masarakat. "Itung-itung minangka latihan alatan engké sajumlah pangladén semodel nyien KTP ogé baris dipigawé sacara online," cenah.

Nina ngaharepkeun, sajumlah mangpaat internet ogé bisa dipiraos ku wargana. Tapi, alatan fasilitas nu ngarojong ka arah kasebut tacan nyukupan, masarakat kakara bisa ngaksés internet kasebut ngaliwatan layanan anu disadiakeun Bapapsi mangrupa Mobile Community Access Point (M-cap).
Sumber: pikiran-rakyat.com

Baca Salengkepna ... »

Perpustakaan Desa dan P3M Desa Ciburial

Salam sejahtera bagi kita semua,

PERPUSTAKAAN DESA & PUSAT PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN MASYARAKAT (P3M)

Desa Ciburial


menerima:


Titipan Wakaf / Donasi Pustaka, berupa,


==
Buku (baru/bekas, fiksi/ilmiah); ==

==
Majalah;==

==
dan bahan Pustaka lainnya. ==


Informasi/berDonasi/berWakaf:


PERPUSTAKAAN DESA & PUSAT PENGEMBANGAN

PENDIDIKAN MASYARAKAT (P3M)

Desa Ciburial


Jl. Ciburial No. 98 Bandung 40198 | Telp. (022) 253 6208
e-mail: p3m_ciburial@ymail.com
Baca Salengkepna ... »

DESA CIBURIAL Mandiri (bagian ke-2: AMAN)


Desa Ciburial Mandiri (makmur, aman, disiplin, dan religius); sebuah cita-cita, harapan, dan impian yang ingin diwujudkan. Desa yang tidak sebatas menjadi tempat hidup (tinggal), namun sebuah desa yang menjadi tempat hidup dan penghidupan bagi masyarakatnya (penghuninya).

Keindahan, kemuliaan, kesehatan, ketenteraman, dan kehormatan tidak pernah singgah kepada sesuatu wilayah yang tidak aman. Begitu pula jikalau Desa Ciburial tidak aman, tidak ada gunanya bangunan yang megah, program yang muluk, dan keinginan yang banyak, sehingga mutlak kuncinya adalah keamanan. Aman dari apa saja?
  • Aman dari kemusyrikan. Diharapkan masyarakat desa ini betul-betul menjadi masyarakat yang memiliki keyakinan yang benar kepada Allah Swt., berakal sehat, dan memiliki iman yang kokoh, yang terbukti dari perilaku akhlak yang baik.

  • Aman dari kemaksiatan. Sungguh pedih hati, merah telinga, andaikata orang yang ingin berbuat nista yang diingat adalah suatu tempat di wilayah desa ini. Tidak pernah ada kehormatan dan keberkahan bagi tempat berlumur maksiat. Oleh karena itu, mari jungjung tinggi kehormatan masyarakat Desa Ciburial dengan menjadikan desa ini sebagai desa yang aman dari kemaksiatan.

  • Aman dari kebusukan hati. Warga desa yang tidak sombong, tidak gemar riya dan pamer, tidak diselimuti kedengkian satu sama lain, bahkan senang berkasih sayang akan membuat desa ini aman, nyaman, dan disukai.

  • Aman dari Korupsi. Korupsi adalah kejahatan yang amat keji sehingga melumpuhkan perekonomian, menutup lapangan kerja, dan memiskinkan masyarakat. Mari bangkit bersama untuk menjadikan citra Desa Ciburial bebas dari KKN.
Baca Salengkepna ... »

DESA CIBURIAL Mandiri (bagian ke-1: MAKMUR)


Desa Ciburial Mandiri (makmur, aman, disiplin, dan religius); sebuah cita-cita, harapan, dan impian yang ingin diwujudkan. Desa yang tidak sebatas menjadi tempat hidup (tinggal), namun sebuah desa yang menjadi tempat hidup dan penghidupan bagi masyarakatnya (penghuninya).

Masyarakat Desa Ciburial yang makmur bukan berarti masyarakat yang sama rata dan sama kaya karena sama rata dan sama kaya tidak mungkin terjadi. Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan selalu ada perbedaan keadaan seseorang, di mana pun dan kapan pun, di dunia ini.

Masyarakat yang makmur adalah masyarakat yang hidupnya proporsional. Perbedaaan yang tampak tidak akan mendatangkan kecemburuan sosial, melainkan justru sebaliknya, akan menghasilkan kasih sayang karena saling membantu satu sama lain.

Orang kaya yang makmur adalah orang yang tidak memamerkan kekayaan. Dengan begitu ia tidak menyakiti hati orang miskin. Orang kaya yang makmur adalah orang yang tidak memperdayai dan mengekploitasi orang lemah untuk semakin memperkaya dirinya. Orang kaya yang makmur adalah orang yang sadar bahwa kekayaannya hanyalah titipan Allah semata sehingga gaya hidupnya proporsional, meraba keadaan dan perasaan masyarakat di sekitarnya. Orang kaya yang makmur adalah orang kaya yang memanfaatkan kekayaannya untuk memberdayakan lingkungannya sehingga ia menjadi pribadi bermanfaat yang dicintai masyarakat.

Begitu pula orang yang memiliki keterbatasan materi, namun memiliki jiwa yang makmur, sehingga hidupnya akan dijalaninnya dengan tetap menjaga harga dirinya untuk tidak meminta-minta, mau bekerja keras dengan cerdas, dan tidak ada rasa dengki sedikit pun terhadap orang yang diberi kekayaan lebih dari dirinya.

Baca Salengkepna ... »

Desa yang ''Terhukum'' PBB

Setiap kali datang ke Gedung DPRD Kab. Bandung, Asep Sutrisna selalu murung. Berbagai berkas selalu dia bawa. Aturan perundang-undangan pun dia hapalkan. Kepala Desa Sekarwangi, Kec. Soreang tersebut, selalu menjadi juru bicara dalam pertemuan dengan anggota dewan, memimpin kawan-kawannya sesama kepala desa, untuk mengubah peraturan bupati yang menghalangi hak desa.
Betapa tidak, 2008 merupakan tahun yang berat bagi 70 desa di Kab. Bandung. Akibat diterbitkannya Peraturan Bupati (Perbup) No. 20 Tahun 2008, desa-desa itu tidak berhak mendapatkan alokasi dana perimbangan desa (ADPD). Alhasil, ADPD senilai lebih dari Rp 7,9 miliar yang telah dianggarkan di APBD 2008 tidak terserap. Pada 27 Januari 2009, Bupati Bandung mengajukan ke DPRD agar anggaran ADPD 2008 dialihkan ke APBD 2009.

Sebenarnya, ADPD merupakan bantuan pemerintah pusat untuk desa, dan sudah seharusnya diberikan kepada desa. Namun, pada 15 Mei 2008, bupati menerbitkan Peraturan Nomor 20 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah, Nomor 2 Tahun 2006 tentang Alokasi Dana Perimbangan Desa di Kab. Bandung, yang justru membatasi hak desa atas ADPD.

Di Bab Mekanisme Pencairan pasal 17 ayat (1) huruf i, misalnya, disebutkan, untuk mendapatkan ADPD tahap I, desa harus melampirkan realisasi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) tahun sebelumnya sekurang-kurangnya 60 persen dan tahun berjalan sekurang-kurangnya 35 persen. Lalu, di ayat (5) huruf h disebutkan, untuk pencairan tahap II, desa harus melampirkan realisasi PBB tahun sebelumnya sekurang-kurangnya 75 persen dan realisasi tahun berjalan sekurang-kurangnya 50 persen.

Persyaratan yang ditetapkan di dalam perbup itu dirasa sangat memberatkan pemerintah desa. Seperti dijelaskan Asep Sutrisna, nyaris tak mungkin desa bisa memenuhi persyaratan itu karena persoalan pemungutan PBB bukan hal yang sederhana.

Memungut PBB adalah tugas pembantuan yang, sebenarnya, bisa ditolak jika sarana dan prasarananya tidak terpenuhi. Lalu, kenapa pemerintah kabupaten malah membuatnya menjadi tugas yang wajib?. Menurut dia, sekitar 80% desa di Kab. Bandung sangat bergantung kepada ADPD untuk membiayai pembangunan desa masing-masing. Oleh karena itu, ketika pencairan ADPD dibatasi dengan syarat realisasi PBB, desa langsung kelimpungan. Bahkan, banyak kepala desa yang terpaksa menggunakan uang pribadi, atau berhutang ke pihak ketiga, untuk menutupi kekurangan pembayaran PBB di desa masing-masing.

Saya juga termasuk kepala desa yang menutupi kekurangan realisasi PBB desa. Saya harus mengeluarkan uang Rp 15 juta untuk menutup kekurangan itu demi mendapatkan ADPD. Teman saya, bahkan, ada yang sampai mengeluarkan uang Rp 40 juta untuk itu.

Walaupun desanya saat ini telah mendapatkan ADPD 2008, tapi Asep tidak ingin cara-cara seperti itu terus dilakukan. Oleh karena itu, dia tetap memimpin rekan-rekannya berupaya agar Perbup 20 Tahun 2008 direvisi.

Kepala Desa Cingcin, Kec. Soreang Soleh M. Rohmat, dengan keras, memprotes pembatasan yang diatur dalam perbup tersebut. Soleh mengaku enggan merogoh uang pribadi demi menutup kekurangan realisasi PBB di desanya. "Mau pakai uang apa? Kalau saya melakukan hal seperti itu, nanti, pemerintah kabupaten semakin seenaknya dan tidak melihat realitas di lapangan tentang sulitnya memenuhi target PBB.

Dijelaskan, setiap program pembangunan desa telah ditetapkan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan disosialisasikan kepada masyarakat. Pembiayaan untuk APBDes itu, kata dia, sebagian besar mengandalkan ADPD. Ketika ADPD tidak bisa dicairkan, karena target PBB tidak tercapai, otomatis sebagian besar program tidak bisa berjalan.

Kepala desa lagi yang kena batunya. Warga bertanya kenapa program yang direncanakan tidak berjalan. Kita jadi mendapat tekanan dari mana-mana.Banyak desa di Kab. Bandung, memang, mengandalkan ADPD untuk membiayai pembangunan. Pasalnya, sebagian besar warga desa-desa itu tergolong miskin. Desa-desa itu tak bisa mengharapkan dana partisipasi dari warganya. Desa Cingcin bisa dijadikan contoh untuk itu meski, secara geografis, dekat dari pusat pemerintahan Kab. Bandung. Bayangkan saja, setiap bulan, desa itu membutuhkan 12 ton beras untuk masyarakat miskin (raskin). Selain itu, lima ribu warganya menjadi peserta jaminan kesehatan masyakarat (Jamkesmas).

Itulah salah satu alasan mengapa Desa Cingcin tak bisa mencapai target PBB Rp 190 juta yang ditetapkan untuk tahun 2007. Konsekuensinya, tentu saja, desa itu tak berhak memperoleh ADPD senilai Rp 140,5 juta. Soleh, Asep, dan puluhan kepala desa lainnya merasa dizalimi Pemkab Bandung. Mereka merasa dihukum atas sesuatu yang bukan kewajiban mereka. Oleh karena itu, mereka terus meminta agar perbup itu direvisi.

Pemkab Bandung, sebaliknya, tak melihat perbup itu sebagai cara untuk menghukum desa yang tak bisa memenuhi target PBB. Semangat perbup itu, justru, untuk meningkatkan pelayanan di desa dan mendidik kedisiplinan warga dalam membayar PBB. Demikian dikatakan Kepala Subbagian Produk Hukum pada Bagian Hukum Setda Kab. Bandung Dayat Sudrajat.

ADPD itu kan berasal dari pajak juga. Jadi, kalau desa membayar pajak, sudah pasti mereka akan mendapatkan ADPD. Kalau syarat realisasi PBB untuk pencairan ADPD dihapuskan, hal itu tidak mendidik desa untuk disiplin.

Dijelaskan, perbup itu merupakan petunjuk petunjuk teknis atas Perda No. 2 Tahun 2006 tentang Alokasi Dana Perimbangan Desa. Eksekutif kemudian mengambil inisiatif untuk menentukan persentase PBB untuk pencairan ADPD itu.

Dalam Perda No. 2 Tahun 2006, memang, PBB dijadikan variabel perhitungan jatah ADPD setiap desa. Namun, tidak disebutkan di dalamnya, pencairan ADPD harus dibatasi dengan persentase realisasi target PBB. Dayat mengaku, perbup itu memang belum sempurna dan masih harus diperbaiki, mengingat protes yang dilayangkan oleh para kepala desa. Menurut dia, pada tahun 2009, peraturan itu akan dikaji kembali. Mungkin saja, nanti, kita tidak membatasi persentase realisasi PBB. Misalnya, jika satu desa hanya menyetor 20 persen dari target PBB, yang 20 persen itulah yang akan dijadikan variabel perhitungan jatah ADPD mereka. Itu akan lebih adil.

Memperbaiki perbup pasti butuh waktu yang lama. Persoalan sekarang, kapan jatah ADPD tahun 2008 Rp 7,9 miliar itu akan diberikan kepada 70 desa yang berhak menerimanya? Dan, apakah mengalihkan ADPD 2008 ke APBD 2009 dibenarkan?

--------
Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Kamis 12 Februari 2009
--------
Baca Salengkepna ... »

Anjir!

Ditulis ku: Waluya

Baheula, waktu mimiti "ngumbara" ka Bandung, kuring sok kaget ku ngaromongna sok ditambahan kecap "Anjir", komo sanggeus nyaho yen kecap "anjir" teh tina kecap "anjing" (memaki). Kuring urang lembur, di Sumedangna oge lain di kotana, malah baheula, jaman kuring keur budak, listrik oge euweuh. Urang lembur lamun ngaromong memang sakapeung garihal, tapi nyaeta henteu ari make kecap "anjing" mah. Tepi ka ayeuna kuring, teu bisa lamun ngobrol make kecap "anjir" da nyaeta asa sarua wae jeung nyebut "anjing" ka nu diajak ngobrol.

Lain wae kuring nu risih ku kecap "Anjir", Pa Brahmantyo, geologist dosen ITB nu loba neuleuman geologi di Bandung, kungsi nulis di milis kisunda, cenah urang Bandung mah bener-bener saperti Sangkuriang, turunan anjing. Puguh atuh ngararambek, kaasup kuring jeung Ua Sas (lamun teu salah, bisa ditempo dina Arsip kisunda). Pa Brahmantyo pundung, kaluar ti millis. Tapi sigana mah rada "kanyenyerian"da geuning diobrolkeun ka kolegana, sabab kuring kungsi ngadenge ti kolegana (Pak Bandono), cenah ceuk Pak Brahmantyo urang sunda mah gampang ngambek, geus sidik eta kecap teh kurang pantes. Kuring ukur nyerengeh seuri, padahal nu harita rada "heuras" teh dina ngajawab postinganana kuring sorangan.

Timana atuh awal muasalna kecap "anjir"? dua poe kamari kuring ngobrol jeung lanceuk perkara ieu. Cenah ceuk manehna, kecap Anjir teh mucunghul lain ti kampung dusun meledug nu teu kungsi ngahakan sakolaan, tapi ti kota, khususna ti Bandung. Ieu kecap sering diucapkeun ku Urang Cina dina ngambek ka pagawena, maksudna meureun, supaya peureus jeung karasa kanu dicarekanana. Nya kulantaran ari di kota mah jelemana campur, lain urang Sunda wae, teu pati ngarti yen ngucapkeun "anjir" teh sarua we jeung nyebut "anjing" kanu ngobrol, kecap "anjir" jadi populer, pangpangna di daerah "slum". Tapi kulantaran "dipikaresep" sigana mah, nya nerekab kamana-mana, pangpangna ka tempat-tempat sabudeureun Bandung (Sumedang, Garut ...jst).

Kecap samodel kieu, aya dina unggal basa sejen oge, contona dina basa Inggris oge aya kecap "fuck" nu diumbar dimana-mana. Tapi sigana henteu ari dina hal-hal nu resmi jeung media publik mah. Biasana dina novel atawa pilem sok kaluar kecap-kecap ieu, meureun supaya saujratna nembongkeun kaayaan nu sabenerna dina dialog hiji masyarakat.

Anjir oge kitu sigana mah, alus oge diasupkeun ka KUSnet, ngan alusna siga "kutrat-kotret"na Kang Ndull, nu siga "motret" kumaha dialog sabagian urang Sunda teh. Lamun dialog langsung, rarasaan teh masih karasa teu ngeunahna disebut "anjing" ku nu ngajak ngobrol .....

Baca Salengkepna ... »

Masagi: estetika Sunda tina babasan & paribasa

Ditulis ku: Mang Jamal

Alam dunya nu éndah ieu dicipta ku Pangeran. Kusabab diciptana ku Pangéran, tangtu rupa atawa wanguna hadé jeung sampurna. Kasampurnaan alam ieu sok dipaké pikeun siloka kaasup dina babasan jeung paribasa. Karancagéan kolot baheula enggoning ngarumuskeun jurus pikeun nyanghareupan hirup jeung kahirupan, salah sahijina dina wangun babasan jeung paribasa, sawaréh dijieun ku cara siloka nu nginjeum ti kaayaan alam éta. Model atawa rupa suhunan imah vernakular di Tatar Sunda make conto alam, boh manuk boh mangrupa sato. Diantarana ranggon –ti manuk ranggon; julang ngapak, badak heuay, tagog atawa jogo anjing, jeung galudra ngupuk.

Cara niru ka alam oge aya dina ngagambarkeun kageulisan hiji wanoja, ditataan maké rupa nu aya di alam bari ditambahan sangkan jentre: angkeut endog sapotong, ramo pucuk eurihan, lambéy jeruk sapasi, halis ngejelér paéh, cangkéng lenggik nanding papanting, taar teja mentrangan, damis kuwung-kuwungan, bitis héjo carulang, jst. Jadi kageulisan atawa kaendahan dirupakeun tina kombinasi rupa nu aya di alam. Malah sangkan leuwih afdol, simbol tina rupa alam dijentrekeun jeung kaayaananana pikeun mastikeun nu dimaksud kalayan sampurna. Saperti dina ngagambarkeun gado, nu geulis mah disebutna oge angkeut, nu hade diibaratkeun ku rupa endog tapi kudu sapotong. halis istri nu geulis kudu siga jelér paéh, da mun jelérna hirup mah duka kumaha rupa halis teh. Jadi sangkan ngajepatna hade, teu usik teu malik luhureun panon, nya dipaehan heula tah si jeler teh!

Eusi babasan jeung paribasa diantarana ajaran moral atawa etika nu oge bisa disebut falsafah pikeun ngalakonan hirup. Ilaharna mangrupa siloka atawa perlambang nu ngandung harti jero bari dirangkéy ku basa nu ringkes, jadi gampang ngingetna. Karasana pantes kénéh dipaké ayeuna oge jaga, teu keuna ku waktu kadaluwarsa da teu make bahan tambahan siga formalin.

Mun urang bingung kudu kumaha gaul boh jeung papada manusa atawa jeung mahluk liana, aya jurusna, diantarana kudu hade gogog hade tagog -siloka maké sipat kaayaan sampurna sato nu aya di alam. Pihartieunana, hirup kudu hade dina nyarita oge dina tingkah laku, ucapan jeung kalakuan kudu sarua alusna.

Sababaraha babasan atawa paribasa make kecap injeuman tina rupa atawa wangun, nyaeta pasagi, buleud jeung segitilu. Kecap pasagi aya dina dina babasan hirup kudu masagi. Naon sababna prak-prakan hirup nu hade diibaratkeun kana rupa pasagi?

Masagi téh kecap gawé ti kecap kaayaan atawa sipat pasagi. Nu disebut pasagi nyaeta rupa kotak – rupa nu dijieun ku opat sisi nu sarua ratana atawa lempengna, tur ukuranana sarua. Pasagi nunjuk ka rupa nu sampurna dina kanyataanana Biasana dilarapkeun utamana dina perkara ngalakonan urusan dunya jeung ahérat atawa agama jeung darigama tea. Sipat pasagi ngandung harti yén hirup téh boga sisi atawa widang nu teu ngan hiji atawa sarupa. Sagala widang kahirupan kudu dilakukeun kalayan saimbang. Cara urang hirup ayeuna di dunya, salian ti kudu mikirkeun kaperluan hirup di dunya, oge kudu kukumpul amal-ibadah pikeun bekel engké jaga di aherat. Ogé yén urang kudu sagala bisa atawa mahér sagala rupa, sabab hirup teh teu gampang jeung loba pisan unak-anikna nu urang kudu bisa sangkan urang hirup teu kadungsang-dungsang sangsara alatan euweuh kabisa. Ringkesna, pasagi dijadikeun conto kumaha hirup kudu dilakonan. Sipatna tindakan atawa kalakuan.

Duka kumaha sasakalana, pasagi éta dina basa Indonesia mah maké mamawa bujur sagala, enya, bujur sangkar tea. Sigana sangkar teh ti basa Minang pikeun pasagi, da di Sumatera Kulon aya lembur ngarana Batusangkar, pastina di dinya aya batu nu rupana ngaharib-harib ka rupa pasagi. Kecap sangkar éta tuluy dipaké oge pikeun rorompok manuk dina basa nasional, sanajan rupana geus teu pasagi deui.

Rupa pasagi teu pati jentré ayana di alam. Dina ayana oge sigana ngan ukur ngaharib-harib, teu saklek rupa pasagi. Da ongkoh rupa pasagi mah dijieun ti opat sisi nu tiap juruna kudu nyékon -kecap ti parabot tukang bas, pasékon- nu hartina opat juruna mun diukur persis 90 darajat téa. Rupa pasagi loba dipaké pikeun wangun parabot sapopoé nu dijieun tina awi, diantarana nyaéta bésék, pipiti, suku boboko, hihid jeung sajabana. Rupa pasagi nu kawentar kamana-mendi utamana pikeun muslim sabab sok di datangan ari naik haji tangtu Ka’bah di Mekah. Ceuk si cenah, harti Ka’bah atawa kufah teh cenah pasagi. Kaligrafi nu tulisanana ngaharib-harib ka rupa kotak disebut kufah atawa kufik.

Salian ti rupa pasagi, rupa atawa wangun nu dipaké dina babasan nyaéta buleud. Cara dina kalimah “Niat kudu buleud”. Rupa buleud teh dijieun tina garis nu tungtungna panggih, bari jarak ti tengah ka unggal sisi sarua. Dina Matématika mah istilah na “jari-jari atawa “r”, tina radian atawa radius téa. Niat urusanana jeung sikep yakin, patali ogé jeung sikep méntal. Pikiran jeung tindakan ngahiji, siga garis buleud.

Rupa atawa wangun buleud aya jeung loba di alam. Diantarana panonpoé, bulan, katumbiri, ombak leutik dina balong mun urang nyemplungkeun batu, daun taraté, jsb. Dina parabot vernakular nu tina awi, rupa buleud dipaké pikeun rupa tampir, nyiru, telebug, téténong, ayakan, jsb.

Rupa buleud sok dipake perlambang kasampurnaan nu sipatna ideologis kaasup tauhid atawa kaimanan. Bulan atawa panonpoé nu rupa dasarna buleud dipaké pikeun lambang nu islami. Ngan sangkan teu pahili jeung sorabi, bulan digambarna sapasi, ongkoh sangkan masih aya tempat pikeun béntang. Panonpoe dijadikan lambang salah sahiji ormas Islam -sangkan teu pahili jeung rupa buleud séjéna- ditambahan ku garis nu nyebar ti sisi buleudan nu hartina cahaya. Lambang bendera Jepang buleud beureum, nyimbolkeun panonpoe isuk-isuk. Pikeun ngagambarkeun manusa suci, dina seni lukis Nasrani, sirah manusa sok dibéré buleudan bodas nu disebut halo. Dina pulitik (nipu rahayat leutik) sok kadéngé istilah kebulatan tekad hiji partey atawa rombongan manusa dina raraga ngadukung hiji calon.

Rupa séjén nyaéta nyungcung. Cara dina kecap “ka balé nyungcung” siloka pikeun dirapalan atawa akad nikah. Balé nyungcung ieu babasan pikeun tempat suci atawa sakral utamana masigit. Sigana baheula akad nikah umumna dilakukeun di masjid supaya leuwih afdol sabab tempat suci jeung ari nikah teh apan upacara suci ogé. Suhunan masigit baheula umumna maké suhunan model tropis nu numpuk siga gunung. Pangluhurna biasana segitilu lobana opat nu dipasangkeun condong pahareup-hareup, ngawangun rupa limas. Suhunan modél kitu biasana disebut limasan, tapi katémbong ti hiji sisi mah segitilu. Jadi istilah nyungcung téh pikeun rupa limas nu dijieun tina opat segitilu. Dina suhunan, segitilu ieu dua sisina nu tangtung sarua panjangna jeung sarua darajat condong atawa miringna. Beh dieu, suhunan masjid aya nu meunang impor ti tanah Arab, nya kubah téa nu rupana belenong. Sanajan sabenerna mah rupa kubah ieu ogé dijadikeun suhunan katédral cara di Italia ogé Russia.

Rupa nu ngaharib-harib ka segitilu aya di alam, contona gunung Cikuray di Garut, siga pisan segitilu: dua sisi condong panggih di puncak, nu hiji mah ngadapang dina taneuh. Dua sisi nu condong éta nyiptakeun rupa nyungcung nu nunjuk ka langit –dihartikeun nuju ka Pangéran. Jadi kaharti mun ku karuhun gunung dianggap suci atawa sakral, salian ti tempat bijilna cai pikeun kahirupan, oge dipaké pikeun tempat muja, tempat karamat, makam atawa astana, nu ayeuna sok disebut situs purbakala atawa sajarah tea. Kusabab di Mesir mah euweuh gunung cara di urang, nya Fir’aun nyieun gugunungan badag nu disebut piramid tea nu umumna dipake pikeun nyimpen jasadna.

Rupa atawa wangun nu aya di alam dunya ieu loba pisan jeung moal kaitung. Ku manusa modéren kaayaan kitu disederhanakeun atawa diringkes kana tilu rupa dasar, nyaéta pasagi, segitilu jeung buleud. Eta tilu rupa dasar dipaké dina élmu Matematika utamana Géometri jeung dina éstetika Seni Rupa. Duka kumaha sasakalana, éta rupa dasar téh aya dina babasan atawa paribasa di urang cara conto di luhur. Tapi dina henteuna aya patali marga, bisa jadi sarua dina inditna: sarua nyokot conto rupa dasar nu aya di alam, dumasar kana kasampurnaan alam jieunan Pangéran. Nu jelas, masing-masing rupa éta sanajan dina wanda nu béda tapi sarua ngandung pihartieun kaayaan sampurna atawa suci. Pasagi pikeun ngagambarkeun kalakuan nu sampurna, buleud pikeun tékad atawa kayakinan nu sampurna, segitilu pikeun tempat nu sampurna –dina harti suci atawa sakral.

Dimuat di Cupumanik bulan Maret 2008)
Baca Salengkepna ... »

Sawios Bedo

Ku: Tata Danamihardja

Kamekaran teknologi teuing ku gancang robahna. Kakara oge mucunghul teknologi anyar, geus torojol deui nu leuwih anyar. Kitu jeung kitu we. Mun baheula nelepon kudu ti warnet, ayeuna mah ti mana bae oge bisa, asal boga telepon keupeul (handphone). Mun baheula boga disket nu kapasitasna ukur sakitu mega, ayeuna mah geus kudu ganti ku flashdisk anu kapasitasna geus nikel nepi ka sa-giga.

Lian ti eta, daek teu daek teknologi oge mangaruhan kana adat tur kabiasaan hirup sapopoe. Mun baheula nu hayang bisa ngetik kudu rosa alias gede tanaga, ayeuna mah teu kudu, sabab tuts atawa tombol komputer mah hampang kabina-bina, beda jeung mesin tik. Nu tadina ngirim kartu lebaran kudu ka kantor pos ayeuna mah bisa ti imah, boh ku SMS atawa kartu elektronik. Mun nu dagang baheula mah kudu adu hareupan bae, ayeuna mah teu kudu. Pan aya internet tea. Jadi, nu dagang jeung nu meuli henteu salawasna kudu panggih. Cukup ku transaksi di internet bae.

Mimiti wawuh jeung nu ngaranna internet teh taun 2000. Eta ge teu ngahaja, ngan pedah kapaksa ku pagawean anu memang pakuat-pakait jeung internet. Loba bahan siaran nu kudu diunjal atawa diundeur ti internet. Talamba-tolombo mimitina mah, ka ditu bingung ka dieu bingung. Tapi ku dileukeunan mah tungtungna rada taram-taram, ngulik sorangan, trial and error.

Itung-itung ngamangpaatkeun teknologi, kuring nyoba-nyoba muka jasa terjemahan ngaliwatan internet. Najan mimitina rada gejed, lila-lila mah nya lumayan we. Leuleutikan, tapi geus asup kana 'kulawarga' internet biz (bisnis internet). Lian ti kauntungan finansial, loba oge pangalaman anu ku kuring pribadi dianggap kauntungan non-finansial, kabeungharan anu teu bisa malulu diukur ku pangaji duit.

Nyanghareupan karakter jelema anu rupa-rupa geus kaalaman. Di internet memang sagala aya. Ti mimiti euwah-euwah nepi ka nu soleh, ti mimiti tukang tipu nepi ka jelema bageur, kabeh aya. Nya di dieu kuring diajar kumaha nyanghareupanana. Kasedih, kabungah, kabeh geus karandapan.

Nerjemahkeun memang lain perkara gampang, lain pagawean sagawayah. Lian ti nerjemahkeun kekecapan, saestuna nu leuwih susah mah nyaeta nerjemahkeun 'rasa' basa sumber kana basa target sangkan hasilna nyugemakeun. Ngan ku sabab rasa mah lain elmu pasti (eksak), lolobana jelema masih kurang ngahargaan kana profesi penerjemah, utamana di urang. Lamun terjemahan ti luar negeri geus diitung per 'kecap' dina standar dollar, di urang mah masih keneh diitung per 'kaca', bari jeung hayang murah bae J. Padahal geus loba toleransi eta teh, harga jang konsumen lemah cai geus kacida dimurahkeunana lamun dibandingkeun jeung harga standar luar negeri.

Kungsi aya kajadian lucu. Hiji mangsa aya nu nerjemahkeun ti instansi pamarentah. Pagawean geus beres, transfer duit geus katarima, pangangguran tatanya, pancakaki. Ku teu dinyana, singhoreng nu silih kirim email jeung kuring teh babaturan baheula. Atuh nu tadina 'ibu-ibuan' jeung 'bapa-bapaan' teh ganti jadi silih sebut ngaran.

Anu aneh jeung pikasediheun oge aya. Caritana aya urang Arab ngirim email, menta dipangnerjemahkeun surat kana basa Inggris. Barang dibuka, sihoreng surat ti pembantuna (TKW) keur ka dulurna di Jawa. Jigana bae surat teh can kaburu dikirimkeun, kaburu dicolong ku dununganana. Matak ngangres, eusina nyaritakeun teu betah, dituduh tara digawe ku dununganana. Hayang mulang ka lemah cai, ngan teu dibere tiket, jaba gajihna tilu bulan can dibayar.

Diterjemahkeun? Ah henteu, kuriak picilakaeun. Kumaha ke mun gara-gara dununganana ngarti kana eusi surat, terus pembantuna dipahala atawa disiksa? Peupeuriheun mantuan teu bisa, atuh ulah-ulah nyilakakeun dulur, papada urang Indonesia. Moal ah, sawios bedo!
Baca Salengkepna ... »